← Semua artikel
Asupan5 mnt baca

FOMO Boba: Satu Gelas Bisa Lewatin Jatah Gula Harianmu

Tiap ada minuman viral, langsung antre. Masalahnya, satu gelas boba bisa 20-30 gram gula — udah lewat dari jatah harian yang disaranin WHO. Ini cara nikmatin tanpa nyesel.

Tim GerakSob · Kamis, 6 Agustus
Dengarkan artikel ini· suara Bang Rak

Ada menu minuman baru viral, timeline langsung penuh, kamu ikut antre. Nggak salah kok — seru. Tapi ada satu angka yang jarang dibahas di balik keseruannya: gula.

Satu gelas, jatah sehari langsung habis

WHO menyarankan asupan gula tambahan (free sugar) di bawah 10% total kalori — idealnya di bawah 5%, atau sekitar 25 gram (6 sendok teh) per hari untuk orang dewasa (WHO, 2015). Masalahnya, satu gelas boba atau minuman manis kekinian bisa mengandung 20-30 gram gula, kadang lebih. Artinya sekali nyeruput, jatah gula harianmu bisa langsung ludes — belum termasuk gula dari makanan lain seharian.

Kenapa ini bukan sekadar soal "kalori"

Konsumsi rutin minuman manis berkaitan kuat dengan risiko diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik. Meta-analisis di Diabetes Care (Malik dkk, 2010) menemukan orang yang paling banyak minum minuman manis punya risiko diabetes tipe 2 jauh lebih tinggi dibanding yang jarang. Dan ini bukan masalah jauh: data Riskesdas menunjukkan prevalensi diabetes di Indonesia terus naik, bahkan mulai muncul pada usia yang makin muda.

FOMO itu nyata — dan mahal buat tubuh

Bagian yang licik: dorongan "harus coba" dari media sosial bikin kita minum bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan. Padahal tubuh nggak peduli minuman itu viral atau nggak — dia cuma terima gulanya.

Nikmatin tanpa nyesel

  • Pesan level gula "less sugar" atau 25-50%. Bedanya besar, rasanya masih enak.
  • Jadikan treat, bukan rutinitas harian. Sekali seminggu, bukan sekali sehari.
  • Skip topping ekstra manis (bubble, jelly, cream cheese) kalau bisa.
  • Imbangi dengan air putih dan gerak — jalan 15 menit setelahnya membantu.
  • Hati-hati: banyak "minuman sehat" viral yang diklaim detox atau booster pun tetap tinggi gula. Cek, jangan ketipu label.

Kalau kamu sudah punya riwayat diabetes, pradiabetes, atau masalah berat badan, konsultasikan pola konsumsi minuman manismu ke tenaga kesehatan ya.

Referensi
  1. Malik VS, Popkin BM, Bray GA, Després JP, Willett WC, Hu FB. Sugar-Sweetened Beverages and Risk of Metabolic Syndrome and Type 2 Diabetes: A meta-analysis. Diabetes Care. 2010;33(11):2477-2483.
  2. World Health Organization. Guideline: Sugars intake for adults and children. Geneva: WHO; 2015.
  3. Kementerian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riskesdas 2018.

Artikel ini edukasi umum, bukan pengganti nasihat medis. Konsultasikan kondisimu ke tenaga kesehatan profesional ya.