← Semua artikel
Kelola Stres5 mnt baca

“Kok Kurusan, Sakit Ya?” — Saat Jadi Lebih Sehat Malah Dikira Sakit

Turun lemak dan makin bugar, tapi malah dikomentari "sakit ya?". Kenapa timbangan menipu, kenapa lingkar pinggang lebih penting, dan kapan "kurusan" memang perlu dicek.

Tim GerakSob · Selasa, 11 Agustus
Dengarkan artikel ini· suara Bang Rak

Bayangin kamu tinggi 179 cm, dulu beratnya 83 kg — kelihatan "berisi", nggak kelihatan gemuk banget, tapi sebenarnya masuk kategori overweight. Lalu kamu benahi pola makan, kontrol karbo, olahraga rutin. Pelan-pelan turun ke 67 kg dengan lemak tubuh 17%, sekarang stabil di 70 kg dan lemak 19% — komposisi yang sehat dan bugar.

Terus apa reaksi orang sekitar? "Kok kurusan, sakit ya?" "Lagi stres ya, sampai turun banyak?" Lucu tapi nyata: kamu justru lebih fit, tapi malah dikira sakit. Kok bisa?

Kenapa "kurusan" langsung dikira sakit

Di banyak keluarga Indonesia, "berisi" lama dianggap tanda makmur dan sehat, sementara turun berat identik dengan sakit atau susah. Padahal datanya justru sebaliknya: menurut Riskesdas 2018, obesitas pada orang dewasa naik jadi 21,8% (dari 14,8% di 2013), dan obesitas sentral (perut buncit) mencapai sekitar 31%. Karena badan "berisi" jadi makin umum, orang yang ramping malah kelihatan "beda" — dan otak kita cepat menyimpulkan yang aneh-aneh.

Angka timbangan bukan segalanya

Yang bikin sebagian orang salah baca: mereka menilai dari angka timbangan atau sekilas penampilan, bukan dari kesehatan sebenarnya. Padahal berat badan itu penanda yang kasar.

  • BMI sering meleset. Studi menemukan BMI gagal mendeteksi banyak orang yang sebenarnya lemaknya tinggi — dua orang dengan berat sama bisa beda jauh komposisinya.
  • Yang lebih penting: lingkar pinggang. Panel ahli internasional bahkan menyebut lingkar pinggang layak jadi "tanda vital" seperti tekanan darah, karena lemak perut paling terkait risiko jantung dan diabetes.
  • Lemak tubuh 19% untuk pria itu masuk rentang bugar. Turun lemak sambil menjaga otot = lebih sehat, walau di mata orang kamu terlihat "lebih kurus".

Jadi kalau kamu turun lemak lewat usaha (makan lebih baik + latihan), itu progres, bukan penyakit.

Tapi — kapan "kurusan" memang perlu dicek?

Ini bagian yang jujur harus disampaikan: komentar keluarga nggak selalu salah. Yang jadi sinyal bahaya adalah penurunan berat yang tidak disengaja — turun banyak (mis. lebih dari 5% dalam 6–12 bulan) padahal kamu tidak diet atau olahraga khusus. Penurunan tak wajar begini bisa berkaitan dengan tiroid, diabetes, gangguan cerna, depresi, sampai kondisi serius lain, dan memang perlu diperiksa.

Bedanya jelas: fat loss yang kamu rencanakan dan rasakan sebabnya = wajar. Berat anjlok tanpa sebab, disertai lemas, demam, atau nafsu makan hilang = jangan disepelekan, konsultasi ke tenaga kesehatan.

Yang bisa kamu lakukan minggu ini

  • Ganti patokan. Ukur lingkar pinggang (incar di bawah ~90 cm untuk pria Asia) dan pantau kekuatan/energi, bukan cuma angka timbangan.
  • Latihan kekuatan 2–3x seminggu biar kamu ramping tapi berisi otot, bukan sekadar "kurus".
  • Siapkan jawaban santai buat komentar: "Sengaja kok, lagi jaga kesehatan." Nggak perlu baper.
  • Cek beneran kalau ragu: kalau beratmu turun tanpa kamu usahakan, atau ada gejala lain, periksakan ke tenaga kesehatan.

Jadi sehat itu bukan soal terlihat "berisi" atau "kurus" di mata orang, tapi soal komposisi tubuh dan kebugaran yang beneran. Kamu paham tubuhmu lebih dari kolom komentar keluarga di grup WhatsApp.

Referensi
  1. Kementerian Kesehatan RI (Balitbangkes). Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Lembaga Penerbit Balitbangkes, 2019. (obesitas dewasa 21,8%; obesitas sentral ~31%)
  2. Ross R, Neeland IJ, Yamashita S, et al. Waist circumference as a vital sign in clinical practice: a Consensus Statement from the IAS and ICCR Working Group on Visceral Obesity. Nat Rev Endocrinol. 2020;16(3):177-189.
  3. Romero-Corral A, Somers VK, Sierra-Johnson J, et al. Accuracy of body mass index in diagnosing obesity in the adult general population. Int J Obes (Lond). 2008;32(6):959-966.
  4. Gaddey HL, Holder K. Unintentional weight loss in older adults. Am Fam Physician. 2014;89(9):718-722.

Artikel ini edukasi umum, bukan pengganti nasihat medis. Konsultasikan kondisimu ke tenaga kesehatan profesional ya.