← Semua artikel
Gerak5 mnt baca

VO2max Naik dari 38 ke 52 di Usia 45 — Tapi Sempat Anjlok, dan Itu Ngajarin Gue Soal Tidur

Di usia 45, VO2max gue naik dari 38 ke 52 lewat Norwegian 4x4 — tapi sempat anjlok ke 45 pas kurang tidur & recovery merah terus. Ini pelajarannya soal latihan vs pemulihan.

Ndru · Selasa, 11 Agustus
Dengarkan artikel ini· suara Bang Rak

Umur gue 45, dan enam bulan terakhir estimasi VO2max gue di WHOOP naik dari 38 ke 50 mL/kg/min. Buat ukuran usia segini itu lumayan — apalagi VO2max normalnya malah menurun seiring bertambahnya umur, kira-kira 10% tiap dekade kalau kamu diam aja.

Tapi bukan angka naiknya yang paling ngajarin gue. Justru bagian yang anjlok di tengah jalan.

Estimasi VO2max WHOOP gue naik dari 38 ke 50 dalam 6 bulan (Agu 2025–Feb 2026), pas rutin Norwegian 4x4 dua kali seminggu.
Estimasi VO2max WHOOP gue naik dari 38 ke 50 dalam 6 bulan (Agu 2025–Feb 2026), pas rutin Norwegian 4x4 dua kali seminggu.

Naik dari 38 ke 50: modalnya Norwegian 4x4

Gue mulai dari 38. Yang gue ubah simpel: dua sesi Norwegian 4x4 seminggu — 4 menit lari atau sepeda keras di 90–95% detak jantung maksimal, 3 menit pelan, diulang 4 kali. Protokol ini memang yang paling terbukti naikin VO2max: di studi Helgerud (2007), 4x4 naikin VO2max sekitar 7–9%, lebih tinggi dari latihan santai berjam-jam. Enam bulan, grafiknya naik terus: 38 → 41 → 45 → 48 → 50.

Terus anjlok: lembur, tidur berantakan, recovery merah

Habis nyentuh 50, hidup ikut campur. Gue kebanjiran kerja, sering lembur sampai larut, tidur jadi berantakan. Di WHOOP, recovery gue merah terus. Latihan rutin banyak yang bolong, sesi Norwegian juga sering kelewat. Hasilnya kelihatan jelas di grafik: VO2max turun dari 50 ke 47, 46, sampai nyangkut di 45.

Pas kerja lembur, tidur kurang, dan recovery merah terus, VO2max gue malah anjlok ke 45 — baru naik lagi ke 52 setelah tidur dan latihan dibenahin.
Pas kerja lembur, tidur kurang, dan recovery merah terus, VO2max gue malah anjlok ke 45 — baru naik lagi ke 52 setelah tidur dan latihan dibenahin.

Kenapa kurang tidur bisa nurunin VO2max

Kuncinya: latihan itu cuma "pemicu". Tubuh baru jadi lebih bugar pas dia pulih — dan pemulihan paling besar terjadi waktu tidur. Kalau tidur dipangkas, adaptasi dari latihan ikut mandek. Review di Sports Med (Fullagar, 2015) nunjukin kurang tidur bikin performa daya tahan turun dan respon tubuh ke latihan memburuk. Ditambah latihan yang bolong, wajar angkanya melorot. Recovery merah di wearable itu bukan hiasan — itu sinyal badan belum siap diforsir.

Balik lagi ke 52

Dan ini bagian pentingnya: gue naik lagi BUKAN karena kerjaan mereda. Kerjaan gue masih hectic parah — nggak berkurang sama sekali. Bedanya, gue mutusin buat prioritasin recovery dan tidur di ATAS segalanya. Sesibuk apa pun, jatah tidur gue jaga, dan Norwegian 4x4 gue balikin rutin. Grafiknya berbalik: 45 → 48 → 52, malah lewatin angka lama gue. Buat konteks, estimasi WHOOP cenderung lebih konservatif dibanding wearable lain — jadi yang penting tren naik-turunnya, bukan angka pastinya.

Yang bisa kamu tiru minggu ini

  • Pilih satu latihan interval keras (4x4 ala Norwegian) 1–2x seminggu. Konsisten ngalahin ngegas sesekali.
  • Perlakukan tidur kayak sesi latihan wajib, bukan sisa waktu. Sesibuk apa pun, jaga 7–9 jam dan jadwal tetap — di sinilah kebugaranmu "dibangun".
  • Kalau wearable nunjukin recovery merah berhari-hari, kurangi beban dulu, jangan dipaksa. Progres butuh pulih.
  • Baca tren berminggu-minggu, bukan angka harian. Naik-turun kecil itu normal.
  • VO2max tinggi bukan cuma soal napas kuat — ini salah satu penanda umur panjang terkuat. Layak diperjuangkan di usia berapa pun.

Kalau kamu punya kondisi jantung atau baru mau mulai olahraga berat, konsultasi ke tenaga kesehatan dulu sebelum ngegas interval keras ya.

Referensi
  1. Helgerud J, Hoydal K, Wang E, et al. Aerobic high-intensity intervals improve VO2max more than moderate training. Med Sci Sports Exerc. 2007;39(4):665-671.
  2. Mandsager K, Harb S, Cremer P, et al. Association of Cardiorespiratory Fitness With Long-term Mortality Among Adults Undergoing Exercise Treadmill Testing. JAMA Netw Open. 2018;1(6):e183605.
  3. Kodama S, Saito K, Tanaka S, et al. Cardiorespiratory fitness as a quantitative predictor of all-cause mortality and cardiovascular events in healthy men and women: a meta-analysis. JAMA. 2009;301(19):2024-2035.
  4. Fleg JL, Morrell CH, Bos AG, et al. Accelerated longitudinal decline of aerobic capacity in healthy older adults. Circulation. 2005;112(5):674-682.
  5. Fullagar HHK, Skorski S, Duffield R, et al. Sleep and athletic performance: the effects of sleep loss on exercise performance, and physiological and cognitive responses to exercise. Sports Med. 2015;45(2):161-186.

Artikel ini edukasi umum, bukan pengganti nasihat medis. Konsultasikan kondisimu ke tenaga kesehatan profesional ya.